Ketika hati tak kuasa membendung
rasa cinta ini maka segeralah mulut ini mengucapkannya, tapi sebelumnya mengapa
diriku mengatakan ini cinta? Yah benar saja ini cinta, di rumah, di kampus, dll
selalu terbayang wajahnya dan selalu namanya yang ku sebut. Cintakah itu?? Hingga
tak sengaja mendengar bunga-bunga banyak yang menantikan si kumbang datang menjemputnya.
langsung saja hati begitu sakit, mungkin bisa dibilang cemburu, dan mungkin ini
benar-benar cinta.
Cinta…
Begitu bahagia merasakannya walau
hanya singkat, ingatkah saat pertemuan pertama kita? Gugup dan keringat
mengguyur, hehehe lebay memang kesannya. Depan Mini market, depan Kampus, di
Kampus, Rumah sakit, dimana tempat-tempat itulah Allah mempertemukan kita baik
sengaja atau tidak.
Cinta…
Ketahuilah hati dan jiwa ini
bersyukur sempat mencintaimu walau hanya sejenak, sebelum engkau meminta sesuatu
padaku, yakni menjaga PERSAHABATAN, ketika sahabatmu mencintaiku. Jika harus
teriak, ingin sekali teriak. Ingin sekali complain kalau cinta tidak harus
dipaksakan, dan tidak selamanya harus memiliki, tapi setelah dipikir-pikir
untuk mendapatkan sesuatu yang sulit memang butuh pengorbanan, tapi walau tak
mungkin untuk mendapatkan sesuatu tersebut maka pengorbanan itulah yang tetap dilanjutkan.
Cinta… begitu sakit rasanya ketika kau memintaku untuk menjaga persahabatanmu,
rasanya tidak adil, okee aku bisa menjaga persahabatanmu tapi tidak dengan
perasaan ini. Hati ini menangis untuk yang pertama kali karenamu. Ketika harus
mengorbankan perasaan untuk orang yang dicintai itu luar biasa menurutku, luar
biasa sakitnya.
Jujur Aku merindukan masa-masa
dulu, Hanya dengan waktu yang singkat untuk bisa mencintaimu dalam diam dan
ketenangan jiwa. Tapi sekarang semua itu hilang sekejab dalam kedipan mata
dengan ketenangan jiwa pula seperti tak pernah terjadi.
Cinta… aku tahu tak sedikitpun kau
memiliki rasa yang sama, tapi setidaknya bisakah kau merasakan rasa ini walau
hanya secuil? Aku tahu sikapmu yang ku rindukan ini hanya untuk menghargai
perasaanku yang berlebihan.
Cinta… kau telah mengajarkanku
untuk cuek dengan masalah ini, cuek dengan rasa ini, diam walau sebenarnyaa ada
sesuatu yang mengganjal dimana tak ada satupun yang tahu. Berhenti mencintaimu
memang jalan satu-satunya, tapi untuk melupakan sosokmu benar-benar sulit. Hingga
waktupun terus berjalan, sikap dingin yang terjadi di antara kita, sehingga
sedikit demi sedikit aku tak lagi merasakan hal seperti yang dulu.
Cinta… setelah aku terbiasa diam
dalam harapanku, diam dalam pengorbananku, tiba-tiba sahabatku sepertinya
mencintaimu. Walau tak secara langsung dia menyampaikannya, tapi begitu jelas
dengan sikapnya padamu, dimana namamu yang selalu disebut olehnya dihadapanku,
selalu dan selalu menceritakannya padakau setiap apa yang dialkuaknnya denganmu.
Aku tahu semua sikapnya yang telah jatuh cinta padamu karena sudah pernah ku
rasakan. Tapi dia tak tahu tentang rasaku padamu. Selalu namamu yang
disebutnya, diapun berharap dirimu adalah jodohnya dan banyak lagi yang tak
mampu kuutarakan padamu.
Sekarang aku sadar, jika harus
memilih antara sahabat dan cinta, aku akan memilih sahabat, toh kalau jodoh,
cinta pasti akan datang kembali. Aku siap dan pasrah jika sahabatku mencintaimu,
walau sakit benar rasanya. Cintaaaaa,,, tapi kenapa yang mencintaimu harus
sahabatku? begitukah yang kau rasakan dulu walau hanya sedikitpun? Air mata
akan selalu menetes apabila sahabatku selalu menyebut namamu, tersenyum dalam
kesedihan jika harus mendengar namamu dari setiap obrolanku dengannya. Inilah air
mata yang kedua karenamu. Sakitnya menusuk jika harus menerima kenyataan bahwa
CINTA TAK HARUS MEMILIKI DAN PERLU PENGORBANAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar