Sebuah
catatan untuk orang yang sangat berarti,,,
Saat itu
masih berusia 11 tahun aku masuk ke sekolah yang bernuansa islami, tepatnya
kelas 1 SMP. Saat itu aku melihat sosok gadis yang berparas cantik, aku sangat
mengaguminya, sungguh mengaguminya. Aku begitu ingin mengenal dirinya, ingin
berteman dengannya, sebelumnya selama 2 tahun aku berpikir dia begitu sombong
dengan apa yang dimilikinya, tetapi pemikiran itu salah setelah aku merasakan
sekelas dengannya pada saat naik ke kelas 3, dia orangnya sangat lucu, aku
bersyukur bisa berteman dengannya, walaupun tak begitu dekat, Aku
dan orang itu banyak kemiripan pengalaman, misalnya sial secara bersama
– sama, senang bersama – sama.
Hingga suatu waktu dia pergi meninggalkanku
untuk melanjutkan study-nya ke SMA terpandang, yang di dalamnya bernuansa
islami dan boarding school. aku sempat menangis karena merasa kehilangan,
merasa takut karena akan jarang bertemu dengannya. Tapi ternyata nasib berkata
lain, akupun lulus di sekolah itu, senang rasanya bisa satu sekolah lagi dengan
orang itu, tapi sebagai manusia pastilah tak pernah puas berharap. Harapanku
yang lainnya yaitu ingin sekamar dengannya, tapi sialnya karena berasal dari
daerah yang sama, aku tak diizinkan. Yah pupus sudah harapan itu, tapi harapanku
yang lainnya aku berharap bisa sekelas lagi dengannya, tapi sayangnya
keberuntungan tak berpihak padaku, dia tak sekelas denganku, tapi walau tak
sekelas aku merasa senang karena masih bisa melihatnya.
Sungguh
sangat aneh, kesialan selalu berpihak kepada kami, aku ingat waktu aku dan
orang itu dalam 1 ranjang saat kami sakit. Dengan penyakit yang sama, sungguh sulit membujuk
orang itu untuk minum obat, wajahnya yang panik karena takut merasakan pahitnya
obat yang diberikan dokter, sampai – sampai aku menangis melihatnya menangis
menahan sakit dan mengatakan ingin pindah sekolah. Akupun berniat apabila dia
ingin pindah sekolah, akupun ingin ikut dengannya.
Aku ingat pula dalam ruangan klinik hanya aku
dan dia, sifat nekat kami kambuh, kami mulai mencoba – coba telephone yang ada
di ruangan itu untuk menghubungi orang tua kami dan menyampaikan kepada mereka
bahwa kami dalam keadaan sakit, aku menjadi satpam untuk berjaga – jaga,
sedangkan dia yang mengotak – atik telephone tersebut, sialnya telephon
tersebut paralel, dan berhubungan dengan gedung administrasi sekolah, dan pos
satpam. Perasaan kami sangat takut saat itu, takut apabila ketahuan, karena
saat itu seseorang yang bersuara laki – laki mengangkat telephon itu. Setelah
kejadian itu, aku sangat senang karena dia sudah sembuh.
Karena
tak begitu tahan dengan keadaan di sekolah itu, aku dan dia pindah dari sekolah
itu, sesuai dengan niatku, apabila dia akan pindah maka aku akan ikut
dengannya. Kami pindah ke SMA yang bukan boarding school. Saat itu aku dan dia ditempatkan
menjadi sekelas, dan duduk berdampingan di pojok belakang kelas, sungguh
menderita. Tak kalah sialnya, aku dan dia disibukkan mengurus ini itu, maklum
anak pindahan.
Hingga
kenaikkan kelaspun tiba, aku dipisahkan darinya, tak tahu kenapa keajaiban
datang sampai kami bisa sekelas lagi di kelas khusus, menurutku khusus orang –
orang sial. Hehehe... Senangnya hatiku
bisa duduk berdampingan dengannya lagi.
Suatu
hari aku pernah belajar kelompok dengannya di kamarnya, saat itu aku tertidur
pulas dengannya, saat bangun aku langsung kaget, tiba – tiba dia marah – marah
tak jelas, tak tau apa sebabnya, aku langsung berpikir bahwa dia sedang
mengigau, setelah dia marah – marah, tiba – tiba saja kami ketawa. Sungguh
sangat aneh.
Aku
ingat kami pulang sekolah bersama – sama sesuai dengan suasana hati, ada
suasana senang kami ketawa sampai di depan rumahnya, ada suasana sedih, kami
diam sampai di rumah masing – masing, ada pula suasana sedih tapi untuk
mencairkan suasana dia sering melucu. Ada juga pengalaman bersama ke tempat
–tempat tertentu, misal ke warung makan, ke warnet, hmmmm gak pernah tuh ke
masjid bersama – sama, hehehehe....
Masih
banyak pengalaman yang lucu, menyedihkan, aneh, gokil yang aku rasakan bersama
– sama dengannya selama 3 tahun. Pengalaman memasak bersama. Hehehee masakan
yang paling enak menurut versi kita berdua, yang dimasak buat orang – orang
yang spesial di hati kami.
Aku
sangat senang, dan bersyukur bisa bersahabat dengannya, aku merasa baru kali
ini menemukan orang seperti dia, aku sangat menyayanginya, aku sudah
menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, maklum aku tak punya saudara
perempuan. aku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia, aku berjanji akan
melakukan apapun untuk membahagiakannya selama aku masih sanggup, dan masih
wajar.
Pada
saat aku dan dia naik ke kelas 3 SMA, tepatnya dibilang saat ini, tak heran aku
sekelas lagi dengannya, duduk berdampingan lagi dengannya, suka dan duka
bersamanya.
Suatu
hari ada konflik yang mengakibatkan kami berbeda pemikiran, kesalah pahaman
yang terjadi membuat kami tak saling bicara, tak bersama lagi, mungkin bukan
konflik biasa sehingga membuat kami seperti ini, seperti orang yang tak saling
kenal. Apabila bertemu tak saling bertegur sapa. Semuanya jadi kacau, Mungkin
semua ini salahku. Aku bingung kenapa demikian? Aku berpikir lain, begitupula
dengannya, aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, aku mendengar dari orang –
orang bahwa dia marah padaku karena aku menjelek – jelekan dia di hadapan orang
lain, sehingga dia marah dan mulai menjauh, padahal tak pernah sedikitpun aku
menjelek – jelekkan dia, apalagi sampai menghina ataupun yang lain. Aku hanya
merasa kehilangan sahabatku saja, kehilangan sosok yang aku kagumi, yang selalu
bersama denganku, yang sangat aku harapkan di saat aku sakit, yang setiap
pulang sekolah selalu bersamaku, tapi kini jauh dariku, jujur kawan aku sangat
cemburu ketika melihat dirimu tak bersamaku, pulang sekolah tak bersama
denganku lagi, hanya dengan orang lain, yang mungkin itu sahabatmu, jujur kawan
aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku, seandainya ada tingkatan yang lebih
tinggi dari sahabat kaulah yang ada di posisi itu, walaupun tak sedikitpun kau
menganggapku sebagai sahabatmu. Keluhan inilah yang aku ceritakan ke orang
lain, bahwa aku kehilangan sahabatku, bukan seperti yang kau pikirkan, itu
alasan aku tak mau mengganggumu lagi, tak membalas smsmu, tak mau menyapamu
apabila bertemu, karena aku tak ingin mengganggumu, kawan aku sangat merindukan
sosokmu, sangat merindukan kamu yang dulu, kawan begitu sakit hatiku melihat
kau bersama dengan yang lain. Mungkin hanya lewat catatan ini aku bisa
mengungkapkan semua yang ada di pikiran dan hatiku. Aku hanya orang pengecut yang tak
berani bicara secara langsung denganmu. Tak kuat aku menahan air mataku apabila
berbicara denganmu, selamat kawan kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan,
selamat kau telah mendapat teman yang lebih baik dariku, yang bisa membuatmu
bahagia, yang sesuai dengan keinginanmu. Ketahuilah sekali lagi tak pernah aku
menjelek – jelekkan dirimu dan sahabatmu itu. Maaf jika selama bersamamu aku
tak pernah membuatmu bahagia, tersenyum, dan memberikan yang kamu inginkan,
maaf jika selama ini aku selalu membuatmu rugi apabila berteman denganku, maaf
jika aku hanya membuatmu sedih, maaf kawan, sekali lagi maaf. Maaf jika aku
pernah menolak permintaanmu untuk membuat kue bronis, alasannya karena aku tak
bisa melihatmu bersama dengan orang lain, sungguh aku tak bisa kawan, maaf.
Hanya kata maaf yang bisa aku sampaikan. Aku hanya merasa kehilangan sahabat
saja, hingga aku menuliskan catatan ini, aku tak berani mengungkapkannya. maaf
jika catatan ini kurang berkenan di hatimu, Miss u.
Aku
berjanji setelah masalah ini selesai aku tak akan mengganggumu lagi, maafkan
aku kawan....
.jpg)

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar