CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Total Tayangan Halaman


Get this widget!

Rabu, 19 Juni 2013

Sesuatu yang Hilang



Sebuah catatan untuk orang yang sangat berarti,,,
Saat itu masih berusia 11 tahun aku masuk ke sekolah yang bernuansa islami, tepatnya kelas 1 SMP. Saat itu aku melihat sosok gadis yang berparas cantik, aku sangat mengaguminya, sungguh mengaguminya. Aku begitu ingin mengenal dirinya, ingin berteman dengannya, sebelumnya selama 2 tahun aku berpikir dia begitu sombong dengan apa yang dimilikinya, tetapi pemikiran itu salah setelah aku merasakan sekelas dengannya pada saat naik ke kelas 3, dia orangnya sangat lucu, aku bersyukur bisa berteman dengannya, walaupun tak begitu dekat,  Aku  dan orang itu banyak kemiripan pengalaman, misalnya sial secara bersama – sama, senang bersama – sama.
 Hingga suatu waktu dia pergi meninggalkanku untuk melanjutkan study-nya ke SMA terpandang, yang di dalamnya bernuansa islami dan boarding school. aku sempat menangis karena merasa kehilangan, merasa takut karena akan jarang bertemu dengannya. Tapi ternyata nasib berkata lain, akupun lulus di sekolah itu, senang rasanya bisa satu sekolah lagi dengan orang itu, tapi sebagai manusia pastilah tak pernah puas berharap. Harapanku yang lainnya yaitu ingin sekamar dengannya, tapi sialnya karena berasal dari daerah yang sama, aku tak diizinkan. Yah pupus sudah harapan itu, tapi harapanku yang lainnya aku berharap bisa sekelas lagi dengannya, tapi sayangnya keberuntungan tak berpihak padaku, dia tak sekelas denganku, tapi walau tak sekelas aku merasa senang karena masih bisa melihatnya.
Sungguh sangat aneh, kesialan selalu berpihak kepada kami, aku ingat waktu aku dan orang itu dalam 1 ranjang saat kami sakit. Dengan  penyakit yang sama, sungguh sulit membujuk orang itu untuk minum obat, wajahnya yang panik karena takut merasakan pahitnya obat yang diberikan dokter, sampai – sampai aku menangis melihatnya menangis menahan sakit dan mengatakan ingin pindah sekolah. Akupun berniat apabila dia ingin pindah sekolah, akupun ingin ikut dengannya.
 Aku ingat pula dalam ruangan klinik hanya aku dan dia, sifat nekat kami kambuh, kami mulai mencoba – coba telephone yang ada di ruangan itu untuk menghubungi orang tua kami dan menyampaikan kepada mereka bahwa kami dalam keadaan sakit, aku menjadi satpam untuk berjaga – jaga, sedangkan dia yang mengotak – atik telephone tersebut, sialnya telephon tersebut paralel, dan berhubungan dengan gedung administrasi sekolah, dan pos satpam. Perasaan kami sangat takut saat itu, takut apabila ketahuan, karena saat itu seseorang yang bersuara laki – laki mengangkat telephon itu. Setelah kejadian itu, aku sangat senang karena dia sudah sembuh.




Karena tak begitu tahan dengan keadaan di sekolah itu, aku dan dia pindah dari sekolah itu, sesuai dengan niatku, apabila dia akan pindah maka aku akan ikut dengannya. Kami pindah ke SMA yang bukan boarding school. Saat itu aku dan dia ditempatkan menjadi sekelas, dan duduk berdampingan di pojok belakang kelas, sungguh menderita. Tak kalah sialnya, aku dan dia disibukkan mengurus ini itu, maklum anak pindahan.
Hingga kenaikkan kelaspun tiba, aku dipisahkan darinya, tak tahu kenapa keajaiban datang sampai kami bisa sekelas lagi di kelas khusus, menurutku khusus orang – orang sial. Hehehe...  Senangnya hatiku bisa duduk berdampingan dengannya lagi.
Suatu hari aku pernah belajar kelompok dengannya di kamarnya, saat itu aku tertidur pulas dengannya, saat bangun aku langsung kaget, tiba – tiba dia marah – marah tak jelas, tak tau apa sebabnya, aku langsung berpikir bahwa dia sedang mengigau, setelah dia marah – marah, tiba – tiba saja kami ketawa. Sungguh sangat aneh.
Aku ingat kami pulang sekolah bersama – sama sesuai dengan suasana hati, ada suasana senang kami ketawa sampai di depan rumahnya, ada suasana sedih, kami diam sampai di rumah masing – masing, ada pula suasana sedih tapi untuk mencairkan suasana dia sering melucu. Ada juga pengalaman bersama ke tempat –tempat tertentu, misal ke warung makan, ke warnet, hmmmm gak pernah tuh ke masjid bersama – sama, hehehehe....
Masih banyak pengalaman yang lucu, menyedihkan, aneh, gokil yang aku rasakan bersama – sama dengannya selama 3 tahun. Pengalaman memasak bersama. Hehehee masakan yang paling enak menurut versi kita berdua, yang dimasak buat orang – orang yang spesial di hati kami.
Aku sangat senang, dan bersyukur bisa bersahabat dengannya, aku merasa baru kali ini menemukan orang seperti dia, aku sangat menyayanginya, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, maklum aku tak punya saudara perempuan. aku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia, aku berjanji akan melakukan apapun untuk membahagiakannya selama aku masih sanggup, dan masih wajar.





Pada saat aku dan dia naik ke kelas 3 SMA, tepatnya dibilang saat ini, tak heran aku sekelas lagi dengannya, duduk berdampingan lagi dengannya, suka dan duka bersamanya.
Suatu hari ada konflik yang mengakibatkan kami berbeda pemikiran, kesalah pahaman yang terjadi membuat kami tak saling bicara, tak bersama lagi, mungkin bukan konflik biasa sehingga membuat kami seperti ini, seperti orang yang tak saling kenal. Apabila bertemu tak saling bertegur sapa. Semuanya jadi kacau, Mungkin semua ini salahku. Aku bingung kenapa demikian? Aku berpikir lain, begitupula dengannya, aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, aku mendengar dari orang – orang bahwa dia marah padaku karena aku menjelek – jelekan dia di hadapan orang lain, sehingga dia marah dan mulai menjauh, padahal tak pernah sedikitpun aku menjelek – jelekkan dia, apalagi sampai menghina ataupun yang lain. Aku hanya merasa kehilangan sahabatku saja, kehilangan sosok yang aku kagumi, yang selalu bersama denganku, yang sangat aku harapkan di saat aku sakit, yang setiap pulang sekolah selalu bersamaku, tapi kini jauh dariku, jujur kawan aku sangat cemburu ketika melihat dirimu tak bersamaku, pulang sekolah tak bersama denganku lagi, hanya dengan orang lain, yang mungkin itu sahabatmu, jujur kawan aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku, seandainya ada tingkatan yang lebih tinggi dari sahabat kaulah yang ada di posisi itu, walaupun tak sedikitpun kau menganggapku sebagai sahabatmu. Keluhan inilah yang aku ceritakan ke orang lain, bahwa aku kehilangan sahabatku, bukan seperti yang kau pikirkan, itu alasan aku tak mau mengganggumu lagi, tak membalas smsmu, tak mau menyapamu apabila bertemu, karena aku tak ingin mengganggumu, kawan aku sangat merindukan sosokmu, sangat merindukan kamu yang dulu, kawan begitu sakit hatiku melihat kau bersama dengan yang lain. Mungkin hanya lewat catatan ini aku bisa mengungkapkan semua yang ada di pikiran dan hatiku. Aku hanya orang pengecut yang tak berani bicara secara langsung denganmu. Tak kuat aku menahan air mataku apabila berbicara denganmu, selamat kawan kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan, selamat kau telah mendapat teman yang lebih baik dariku, yang bisa membuatmu bahagia, yang sesuai dengan keinginanmu. Ketahuilah sekali lagi tak pernah aku menjelek – jelekkan dirimu dan sahabatmu itu. Maaf jika selama bersamamu aku tak pernah membuatmu bahagia, tersenyum, dan memberikan yang kamu inginkan, maaf jika selama ini aku selalu membuatmu rugi apabila berteman denganku, maaf jika aku hanya membuatmu sedih, maaf kawan, sekali lagi maaf. Maaf jika aku pernah menolak permintaanmu untuk membuat kue bronis, alasannya karena aku tak bisa melihatmu bersama dengan orang lain, sungguh aku tak bisa kawan, maaf. Hanya kata maaf yang bisa aku sampaikan. Aku hanya merasa kehilangan sahabat saja, hingga aku menuliskan catatan ini, aku tak berani mengungkapkannya. maaf jika catatan ini kurang berkenan di hatimu,  Miss u.

Aku berjanji setelah masalah ini selesai aku tak akan mengganggumu lagi, maafkan aku kawan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar