Catatan kecil dari seorang siswa...
Pada tanggal 7
November 2010 tepatnya pada malam hari, saat itu aku sedang berbaring
mendengarkan musik sambil membaca teks drama yang ditugaskan oleh bapak Hamzah.
Saat itu HPku bergetar tanda pesan masuk, pesan itu dari temanku yuyun, aku
langsung berpikir, “Ah mungkin itu hanya konsep gak penting, atau dia hanya
ingin menanyakan jadwal besok”. Akupun langsung membuka pesan itu, mataku
melotot saat membaca kalimat “Innalillahhi Wainnailaihi Raajiun”, di bawah
kalimat itu bertuliskan sebuah nama yang tak asing bagiku, itu adalah guruku,
guru kimiaku, bapak Arif. Tak sadar air
mataku menetes dan jantungku berdetak kencang, pikiran melayang tak karuan.
Langsung saja aku membalas pesan dari yuyun, aku menanyakan “apa benar beliau
telah meninggal?” Saat itu aku tak percaya Karena pengalaman yang lalu terjadi pada
temanku namanya Inang, berita kematiannya hanya boongan.
Tak lama HPku bergetar, itu pesan dari Yuyun, yang isinya
“ iyo so mninggal dy, kita cman te kifli da blg”. Tubuhku lemas, rasanya tak
kuat mendengar guru tercinta telah meninggalkan kami yang masih membutuhkannya.
Aku masih belum percaya dengan semua ini, langsung saja aku menanyakan hal ini
pada sahabatku Fanny, tak lama kemudian dia langsung menelfonku dan
menceritakan semuanya. Air mataku kembali menetes setelah mendengar semuanya.
Kini beliau telah tiada, telah pergi meninggalkan orang –
orang yang sangat menyayanginya, “Pak kami akan selalu mendoakanmu, selalu mengenangmu
sebagai guru kimia terbaik di SMA N 2 Limboto”
Teringat pertama kali mengenalmu dan kenangan kami
bersamamu. Awal mengenalmu aku mengira kau adalah guru tercuek di SMANDu Limboto,
saat itu kau pernah bertanya padaku tentang pelajaran kimia di sekolah asalku
yaitu Insan Cendekia. Akupun menjawab pertanyaanmu dengan penuh rasa takut. aku
masih berpikir kau adalah guru tercuek dan tersangar sampai tiba saat bimbingan
olimpiade, tepatnya pelajaran kimia, itulah saat pertama kalinya aku merasakan
bagaimana kau mengajar, aku bangga padamu, kau tak pernah menegur bahkan marah
saat aku dan kedua temanku yaitu Vika dan Arlan mulai tertidur saat kau
mengajar.
Aku ingat, guru
yang pertama kalinya mengucapkan selamat adalah engkau saat aku lolos olimpiade
kimia ke tingkat provinsi, Terima kasih pak, berkat engkau aku bisa mendapatkan
apa yang aku harapkan.
Aku juga ingat saat kau mulai mengajar kami kelas XII,
jujur pak sempat ada rasa jenuh yang kami rasakan di dalam kelas. Tapi karena
kehebatanmu kau bisa mengimbangi rasa itu dengan cerita – cerita pengalamanmu.
Aku ingat sahabatku Fanny mengatakan dirimu adalah
suaminya. Aku ingat setiap sepulang sekolah aku dan Fanny selalu mengejarmu
tiap kali kau mulai mengendarai motormu (pengen numpang). Aku ingat setiap
bersalaman denganmu tanganmu hangat. Aku ingat saat kau menjadi tempat
curhatnya ibu Ayu. Aku juga ingat saat kau tertawa bersama para guru, aku ingat
setiap pagi kau sudah berbincang bersama Bapak Apilo, Pak Rahman, Pak Rizal,
Pak Ben dan Pak Tisno. Aku ingat setiap
pagi bertemu denganmu kau selalu mengatakan “Gak terlambat lagi?”
Aku ingat saat aku menangis setelah mengikuti ulangan
darimu, dan lari ke luar kelas dengan berteriak kencang, kesal dengan soal yang
kau berikan. Aku ingat setelah itu kau tersenyum dan mengatakan bahwa aku
stres, melihat aku menangis kau langsung menenangkanku dengan membahas soal
bersama – sama, saat itu kau menyuruhku duduk di kursimu, dan kau hanya
berdiri, di sisi lain teman – temanku tertawa
melihat sikapku yang bertanya padamu layaknya seorang guru bertanya pada
siswanya (kebalik).
Aku ingat saat kami memintamu membuat es krim bersama
kami. Aku ingat saat kami meminta pergantian guru kimia menjadi bapak Tisno.
Aku ingat setelah permintaan kami itu terkabul setiap bertemu denganmu kami
takut, tak bermaksud menyinggung persaanmu. Aku ingat aku selalu memberimu
pertanyaan setiap kali aku merasa kesulitan dalam belajar, aku ingat aku pernah
meminjam buku padamu saat diskusi kelompok, aku ingat saat aku marah padamu
saat aku tak bisa menjawab pertanyaan darimu. Aku ingat setelah meminjam buku
darimu, setiap kali bertemu denganmu aku pasti lari atau sembunyi, karena
bukumu belum aku kembalikan, padahal aku sudah berjanji akan mengembalikannya
hari itu juga.
Aku ingat saat kau mengetahui kami jenuh, kau pernah
berkata “guru itu bisa dikatakan sukses jikalau siswanya mengerti dengan
pelajaran yang dia berikan, selain itu guru bisa sukses apabila memberikan
kesempatan pada siswanya untuk bertanya, agar dapat mengetahui tingkat
pemahaman siswa tersebut”
“Pak maafkan kami yang selalu jenuh setiap kali belajar,
maafkan kami karena meminta pergantian guru, maafkan kami karena sikap kami
terkadang membuatmu kesal. Maafkan aku yang pernah mengganggumu saat kau
mengajar dengan pertanyaan – pertanyaan konyolku. Pak maafkan aku yang belum
mengembalikan buku yang aku pinjam minggu kemarin. Buku itu sangat bermanfaat
bagiku, terima kasih pak atas jasamu. Kami sangat menyayangimu dan selalu
merindukan sosokmu, kini tak ada lagi sosok pahlawan yang selalu menyelamatkanku
ketika aku dalam kesulitan belajar kimia, tak ada lagi tempat sharing pendapat soal
kimia, tak ada lagi sosok yang penyabar, tak ada lagi sosok yang bersuara
lembut, yang murah senyum, dan tak ada lagi sosok yang selalu dikatakan oleh
sahabatku, bahwa kau adalah suaminya.”
Yaa ALLAH terimalah beliau di sisimu. AMIN.
We love u and We miss u Sir


.jpg)

.jpg)