CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Total Tayangan Halaman


Get this widget!

Rabu, 19 Juni 2013

Kepergian Almarhum Bapak Arif Jayadi

Catatan kecil dari seorang siswa...
Pada tanggal 7 November 2010 tepatnya pada malam hari, saat itu aku sedang berbaring mendengarkan musik sambil membaca teks drama yang ditugaskan oleh bapak Hamzah. Saat itu HPku bergetar tanda pesan masuk, pesan itu dari temanku yuyun, aku langsung berpikir, “Ah mungkin itu hanya konsep gak penting, atau dia hanya ingin menanyakan jadwal besok”. Akupun langsung membuka pesan itu, mataku melotot saat membaca kalimat “Innalillahhi Wainnailaihi Raajiun”, di bawah kalimat itu bertuliskan sebuah nama yang tak asing bagiku, itu adalah guruku, guru kimiaku, bapak Arif. Tak sadar  air mataku menetes dan jantungku berdetak kencang, pikiran melayang tak karuan. Langsung saja aku membalas pesan dari yuyun, aku menanyakan “apa benar beliau telah meninggal?” Saat itu aku tak percaya  Karena pengalaman yang lalu terjadi pada temanku namanya Inang, berita kematiannya hanya boongan.
Tak lama HPku bergetar, itu pesan dari Yuyun, yang isinya “ iyo so mninggal dy, kita cman te kifli da blg”. Tubuhku lemas, rasanya tak kuat mendengar guru tercinta telah meninggalkan kami yang masih membutuhkannya. Aku masih belum percaya dengan semua ini, langsung saja aku menanyakan hal ini pada sahabatku Fanny, tak lama kemudian dia langsung menelfonku dan menceritakan semuanya. Air mataku kembali menetes setelah mendengar semuanya.

Kini beliau telah tiada, telah pergi meninggalkan orang – orang yang sangat menyayanginya, “Pak kami akan selalu mendoakanmu, selalu mengenangmu sebagai guru kimia terbaik di SMA N 2 Limboto”

Teringat pertama kali mengenalmu dan kenangan kami bersamamu. Awal mengenalmu aku mengira kau adalah guru tercuek di SMANDu Limboto, saat itu kau pernah bertanya padaku tentang pelajaran kimia di sekolah asalku yaitu Insan Cendekia. Akupun menjawab pertanyaanmu dengan penuh rasa takut. aku masih berpikir kau adalah guru tercuek dan tersangar sampai tiba saat bimbingan olimpiade, tepatnya pelajaran kimia, itulah saat pertama kalinya aku merasakan bagaimana kau mengajar, aku bangga padamu, kau tak pernah menegur bahkan marah saat aku dan kedua temanku yaitu Vika dan Arlan mulai tertidur saat kau mengajar.


Aku  ingat, guru yang pertama kalinya mengucapkan selamat adalah engkau saat aku lolos olimpiade kimia ke tingkat provinsi, Terima kasih pak, berkat engkau aku bisa mendapatkan apa yang aku harapkan.

Aku juga ingat saat kau mulai mengajar kami kelas XII, jujur pak sempat ada rasa jenuh yang kami rasakan di dalam kelas. Tapi karena kehebatanmu kau bisa mengimbangi rasa itu dengan cerita – cerita pengalamanmu.

Aku ingat sahabatku Fanny mengatakan dirimu adalah suaminya. Aku ingat setiap sepulang sekolah aku dan Fanny selalu mengejarmu tiap kali kau mulai mengendarai motormu (pengen numpang). Aku ingat setiap bersalaman denganmu tanganmu hangat. Aku ingat saat kau menjadi tempat curhatnya ibu Ayu. Aku juga ingat saat kau tertawa bersama para guru, aku ingat setiap pagi kau sudah berbincang bersama Bapak Apilo, Pak Rahman, Pak Rizal, Pak Ben dan Pak Tisno.  Aku ingat setiap pagi bertemu denganmu kau selalu mengatakan “Gak terlambat lagi?”

Aku ingat saat aku menangis setelah mengikuti ulangan darimu, dan lari ke luar kelas dengan berteriak kencang, kesal dengan soal yang kau berikan. Aku ingat setelah itu kau tersenyum dan mengatakan bahwa aku stres, melihat aku menangis kau langsung menenangkanku dengan membahas soal bersama – sama, saat itu kau menyuruhku duduk di kursimu, dan kau hanya berdiri, di sisi lain teman – temanku  tertawa melihat sikapku yang bertanya padamu layaknya seorang guru bertanya pada siswanya (kebalik).

Aku ingat saat kami memintamu membuat es krim bersama kami. Aku ingat saat kami meminta pergantian guru kimia menjadi bapak Tisno. Aku ingat setelah permintaan kami itu terkabul setiap bertemu denganmu kami takut, tak bermaksud menyinggung persaanmu. Aku ingat aku selalu memberimu pertanyaan setiap kali aku merasa kesulitan dalam belajar, aku ingat aku pernah meminjam buku padamu saat diskusi kelompok, aku ingat saat aku marah padamu saat aku tak bisa menjawab pertanyaan darimu. Aku ingat setelah meminjam buku darimu, setiap kali bertemu denganmu aku pasti lari atau sembunyi, karena bukumu belum aku kembalikan, padahal aku sudah berjanji akan mengembalikannya hari itu juga.

Aku ingat saat kau mengetahui kami jenuh, kau pernah berkata “guru itu bisa dikatakan sukses jikalau siswanya mengerti dengan pelajaran yang dia berikan, selain itu guru bisa sukses apabila memberikan kesempatan pada siswanya untuk bertanya, agar dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa tersebut”

“Pak maafkan kami yang selalu jenuh setiap kali belajar, maafkan kami karena meminta pergantian guru, maafkan kami karena sikap kami terkadang membuatmu kesal. Maafkan aku yang pernah mengganggumu saat kau mengajar dengan pertanyaan – pertanyaan konyolku. Pak maafkan aku yang belum mengembalikan buku yang aku pinjam minggu kemarin. Buku itu sangat bermanfaat bagiku, terima kasih pak atas jasamu. Kami sangat menyayangimu dan selalu merindukan sosokmu, kini tak ada lagi sosok pahlawan yang selalu menyelamatkanku ketika aku dalam kesulitan belajar kimia,  tak ada lagi tempat sharing pendapat soal kimia, tak ada lagi sosok yang penyabar, tak ada lagi sosok yang bersuara lembut, yang murah senyum, dan tak ada lagi sosok yang selalu dikatakan oleh sahabatku, bahwa kau adalah suaminya.”

Yaa ALLAH terimalah beliau di sisimu. AMIN.

We love u and We miss u Sir



Sesuatu yang Hilang



Sebuah catatan untuk orang yang sangat berarti,,,
Saat itu masih berusia 11 tahun aku masuk ke sekolah yang bernuansa islami, tepatnya kelas 1 SMP. Saat itu aku melihat sosok gadis yang berparas cantik, aku sangat mengaguminya, sungguh mengaguminya. Aku begitu ingin mengenal dirinya, ingin berteman dengannya, sebelumnya selama 2 tahun aku berpikir dia begitu sombong dengan apa yang dimilikinya, tetapi pemikiran itu salah setelah aku merasakan sekelas dengannya pada saat naik ke kelas 3, dia orangnya sangat lucu, aku bersyukur bisa berteman dengannya, walaupun tak begitu dekat,  Aku  dan orang itu banyak kemiripan pengalaman, misalnya sial secara bersama – sama, senang bersama – sama.
 Hingga suatu waktu dia pergi meninggalkanku untuk melanjutkan study-nya ke SMA terpandang, yang di dalamnya bernuansa islami dan boarding school. aku sempat menangis karena merasa kehilangan, merasa takut karena akan jarang bertemu dengannya. Tapi ternyata nasib berkata lain, akupun lulus di sekolah itu, senang rasanya bisa satu sekolah lagi dengan orang itu, tapi sebagai manusia pastilah tak pernah puas berharap. Harapanku yang lainnya yaitu ingin sekamar dengannya, tapi sialnya karena berasal dari daerah yang sama, aku tak diizinkan. Yah pupus sudah harapan itu, tapi harapanku yang lainnya aku berharap bisa sekelas lagi dengannya, tapi sayangnya keberuntungan tak berpihak padaku, dia tak sekelas denganku, tapi walau tak sekelas aku merasa senang karena masih bisa melihatnya.
Sungguh sangat aneh, kesialan selalu berpihak kepada kami, aku ingat waktu aku dan orang itu dalam 1 ranjang saat kami sakit. Dengan  penyakit yang sama, sungguh sulit membujuk orang itu untuk minum obat, wajahnya yang panik karena takut merasakan pahitnya obat yang diberikan dokter, sampai – sampai aku menangis melihatnya menangis menahan sakit dan mengatakan ingin pindah sekolah. Akupun berniat apabila dia ingin pindah sekolah, akupun ingin ikut dengannya.
 Aku ingat pula dalam ruangan klinik hanya aku dan dia, sifat nekat kami kambuh, kami mulai mencoba – coba telephone yang ada di ruangan itu untuk menghubungi orang tua kami dan menyampaikan kepada mereka bahwa kami dalam keadaan sakit, aku menjadi satpam untuk berjaga – jaga, sedangkan dia yang mengotak – atik telephone tersebut, sialnya telephon tersebut paralel, dan berhubungan dengan gedung administrasi sekolah, dan pos satpam. Perasaan kami sangat takut saat itu, takut apabila ketahuan, karena saat itu seseorang yang bersuara laki – laki mengangkat telephon itu. Setelah kejadian itu, aku sangat senang karena dia sudah sembuh.




Karena tak begitu tahan dengan keadaan di sekolah itu, aku dan dia pindah dari sekolah itu, sesuai dengan niatku, apabila dia akan pindah maka aku akan ikut dengannya. Kami pindah ke SMA yang bukan boarding school. Saat itu aku dan dia ditempatkan menjadi sekelas, dan duduk berdampingan di pojok belakang kelas, sungguh menderita. Tak kalah sialnya, aku dan dia disibukkan mengurus ini itu, maklum anak pindahan.
Hingga kenaikkan kelaspun tiba, aku dipisahkan darinya, tak tahu kenapa keajaiban datang sampai kami bisa sekelas lagi di kelas khusus, menurutku khusus orang – orang sial. Hehehe...  Senangnya hatiku bisa duduk berdampingan dengannya lagi.
Suatu hari aku pernah belajar kelompok dengannya di kamarnya, saat itu aku tertidur pulas dengannya, saat bangun aku langsung kaget, tiba – tiba dia marah – marah tak jelas, tak tau apa sebabnya, aku langsung berpikir bahwa dia sedang mengigau, setelah dia marah – marah, tiba – tiba saja kami ketawa. Sungguh sangat aneh.
Aku ingat kami pulang sekolah bersama – sama sesuai dengan suasana hati, ada suasana senang kami ketawa sampai di depan rumahnya, ada suasana sedih, kami diam sampai di rumah masing – masing, ada pula suasana sedih tapi untuk mencairkan suasana dia sering melucu. Ada juga pengalaman bersama ke tempat –tempat tertentu, misal ke warung makan, ke warnet, hmmmm gak pernah tuh ke masjid bersama – sama, hehehehe....
Masih banyak pengalaman yang lucu, menyedihkan, aneh, gokil yang aku rasakan bersama – sama dengannya selama 3 tahun. Pengalaman memasak bersama. Hehehee masakan yang paling enak menurut versi kita berdua, yang dimasak buat orang – orang yang spesial di hati kami.
Aku sangat senang, dan bersyukur bisa bersahabat dengannya, aku merasa baru kali ini menemukan orang seperti dia, aku sangat menyayanginya, aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri, maklum aku tak punya saudara perempuan. aku tak ingin kehilangan sahabat seperti dia, aku berjanji akan melakukan apapun untuk membahagiakannya selama aku masih sanggup, dan masih wajar.





Pada saat aku dan dia naik ke kelas 3 SMA, tepatnya dibilang saat ini, tak heran aku sekelas lagi dengannya, duduk berdampingan lagi dengannya, suka dan duka bersamanya.
Suatu hari ada konflik yang mengakibatkan kami berbeda pemikiran, kesalah pahaman yang terjadi membuat kami tak saling bicara, tak bersama lagi, mungkin bukan konflik biasa sehingga membuat kami seperti ini, seperti orang yang tak saling kenal. Apabila bertemu tak saling bertegur sapa. Semuanya jadi kacau, Mungkin semua ini salahku. Aku bingung kenapa demikian? Aku berpikir lain, begitupula dengannya, aku tak tahu apa yang terjadi dengannya, aku mendengar dari orang – orang bahwa dia marah padaku karena aku menjelek – jelekan dia di hadapan orang lain, sehingga dia marah dan mulai menjauh, padahal tak pernah sedikitpun aku menjelek – jelekkan dia, apalagi sampai menghina ataupun yang lain. Aku hanya merasa kehilangan sahabatku saja, kehilangan sosok yang aku kagumi, yang selalu bersama denganku, yang sangat aku harapkan di saat aku sakit, yang setiap pulang sekolah selalu bersamaku, tapi kini jauh dariku, jujur kawan aku sangat cemburu ketika melihat dirimu tak bersamaku, pulang sekolah tak bersama denganku lagi, hanya dengan orang lain, yang mungkin itu sahabatmu, jujur kawan aku sudah menganggapmu sebagai sahabatku, seandainya ada tingkatan yang lebih tinggi dari sahabat kaulah yang ada di posisi itu, walaupun tak sedikitpun kau menganggapku sebagai sahabatmu. Keluhan inilah yang aku ceritakan ke orang lain, bahwa aku kehilangan sahabatku, bukan seperti yang kau pikirkan, itu alasan aku tak mau mengganggumu lagi, tak membalas smsmu, tak mau menyapamu apabila bertemu, karena aku tak ingin mengganggumu, kawan aku sangat merindukan sosokmu, sangat merindukan kamu yang dulu, kawan begitu sakit hatiku melihat kau bersama dengan yang lain. Mungkin hanya lewat catatan ini aku bisa mengungkapkan semua yang ada di pikiran dan hatiku. Aku hanya orang pengecut yang tak berani bicara secara langsung denganmu. Tak kuat aku menahan air mataku apabila berbicara denganmu, selamat kawan kau telah mendapatkan apa yang kau inginkan, selamat kau telah mendapat teman yang lebih baik dariku, yang bisa membuatmu bahagia, yang sesuai dengan keinginanmu. Ketahuilah sekali lagi tak pernah aku menjelek – jelekkan dirimu dan sahabatmu itu. Maaf jika selama bersamamu aku tak pernah membuatmu bahagia, tersenyum, dan memberikan yang kamu inginkan, maaf jika selama ini aku selalu membuatmu rugi apabila berteman denganku, maaf jika aku hanya membuatmu sedih, maaf kawan, sekali lagi maaf. Maaf jika aku pernah menolak permintaanmu untuk membuat kue bronis, alasannya karena aku tak bisa melihatmu bersama dengan orang lain, sungguh aku tak bisa kawan, maaf. Hanya kata maaf yang bisa aku sampaikan. Aku hanya merasa kehilangan sahabat saja, hingga aku menuliskan catatan ini, aku tak berani mengungkapkannya. maaf jika catatan ini kurang berkenan di hatimu,  Miss u.

Aku berjanji setelah masalah ini selesai aku tak akan mengganggumu lagi, maafkan aku kawan....